Bahaya Narkoba

Bahaya Narkoba

 SETIAP hari dalam tanyangan media elektronik (TV) kita melihat kasus penyalah gunaan narkoba. Tidak sedikit para remaja dan generasi muda yang menjadi korbannya. Para pengedar mungkin tidak tahu atau sengaja untuk mengedarkan bahan terlarang tersebut walaupun dilarang oleh agama maupun hukum. Para pengedar tidak segan-segan mencari mangsanya dengan seribu macam bujuk rayu. Ini terjadi di setiap daerah terutama kota-kota besar. Bagaimana generasi muda yang menjadi tulang punggung bangsa apabila ia menjadi korban narkoba ? Mustahil !, Inilah jawaban yang tepat. Para

pengedar dan pemakai mungkin sekali tidak berpikir panjang bahwa barang tersebut merupakan barang terlarang sebab dapat merusak moral bangsa.

Narkoba juga termasuk bahan lain yang dipakai sebagai pengganti morphina atau kokaina dikenal sebagai obat yang berbahaya, karena dapat merusak kesadaran, fungsi mental dan fisik manusia. Pemakaian obat-obat tersebut di luar pengawasan dokter sangat membahayakan karena dapat menimbulkan keadaan yang tidak terkuasai atau terkendali dan dapat berpengaruh terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Menghindari bahan yang menjadikan ketagihan dan memabukkan itu adalah salah satu sila yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh umat Buddha. Secara umum ketentuan mengenai minuman keras berlaku untuk segala jenis bahan makanan atau minuman yang dapat mengganggu kesadaran. Obat bius, obat tidur, obat penenang, dan minuman keras lainnya yang dapat menghancurkan konsentrasi atau meditasi sehingga menggagalkan kearifan. Orang yang arif dapat memilih tentang makanan sebagai kebutuhan dan makanan sebagai pemuas nafsu. Makanan dan minuman yang berfungsi sebagai kebutuhan yang diperlukan oleh tubuh maka akan sangat terbatas, namun bilamana makanan dan minuman berfungsi sebagai pemuas nafsu tidak akan ada batasnya, justru kecenderungannya manusia akan dikuasai oleh nafsunya. Ini merupakan konsep yang bertentangan dengan agama, karena agama mengajarkan agar manusia mengendalikan nafsunya. Apabila nafsu telah berkobar dalam jiwa manusia maka keinginannya tanpa batas dan membahayakan bagi orang lain. Buddha memperingatkan pada kita bahwa ada enam bahaya atau akibat buruk bagi orang yang ketagihan minuman yang memabukkan. Yaitu ” Kehilangan harta dengan cepat, bertambahnya pertengkaran, mudah terkena penyakit, kehilangan watak yang baik, penampilan yang buruk, dan melemahnya kecerdasan” (Digha Nikaya 31, Sigalovada Sutta)

Penderita kecanduan senantiasa terdorong oleh nafsu untuk mengulangi terus (adiksi) dan apabila putus obat maka ia akan menderita. Kebutuhan obatnya pun meningkat (toleransi). Kebanyakan dosis, pemakaian yang tidak sehat atau bahan bercampur yang beracun akan menimbulkan komplikasi penyakit dan ancaman maut menjemputnya. Sedangkan untuk memenuhi atau membiayai kebutuhannya akan obat-obat tersebut para korban mudah terperosok dalam kejahatan sehingga sangat membahayakan bagi kehidupan sosial kemasyarakatan.

Penderita itu adalah orang sakit yang harus di tolong. Sebagai contoh para pengurus Vihara di Muangthai secara tradisional menampung dan menolong penyembuhan pecandu narkotika. Pengobatan melepas racun memakai ramuan diikuti dengan ritual. Pemahaman agama yang diikuti dengan diskusi yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi merupakan langkah-langkah terapi penyembuhan. Tanpa memahami dan mengatasi penyebab, suatu tindakan penyembuhan tidaklah tuntas.

Ketidak tahuan (avijja) disebut pula tidak berpengetahuan (annana), tidak melihat (adassana) atau lebih sering dinyatakan sebagai kebodohan dan kegelapan (moha), termasuk dalam pengertian ini adalah salah tahu. Ketidak tahuan atau kebodohan merupakan salah satu akar dari keburukan, kesalahan atau kejahatan (akusala mula). Bergantung pada ketidak tahuan, maka terjadilah bentuk-bentuk karma,” demikian disabdakan oleh Buddha .( Sanyutta Nikaya XII.3:22)

Penderitaan datang dari ketidaktahuan. Dalam rangkaian hokum sebab-musebab yang saling bergantungan (Patticcasamudapa), ketidak tahuan tidak merupakan penyebab langsung yang berdiri sendiri. Salah satu sumber penderitaan yang sering terjadi karena diliputi hawa nafsu, kehausan atau keinginan yang tidak ada puasnya (tanha). Kehausan itu berpangkal pada anggapan adanya keakuan yang timbul dari ketidak tahuan. Keakuan ditandai dari kepentingan diri sendiri, menginginkan segala sesuatu bagi dirinya sendiri dan tidak pernah peduli dengan apa yang akan terjadi pada orang lain , sebagai akibat dari perbuatannya yang keliru itu. Gambaran ini dapat ditemukan pada kebanyakan orang. Para pegawai misalnya, ia menganggap bahwa pekerjaannya itu tidak ada hubungannya dengan orang lain, padahal ia dapat menjadi pegawai karena orang lain. Para

penyalahguna Narkoba mencari kenikmatan sendiri tanpa peduli dengan akibat yang akan timbul, ia terbius dengan kenikmatan sesaat yang akan menyebabkan penderitaan yang cukup lama , bahkan mungkin sepanjang hidupnya. Banyak faktor lain yang dapat menjebak orang sehingga terjerumus dalam obat-obat terlarang. Penebab utama munculnya ketidak tahuan adalah kepribadian yang lemah, stress atau frustasi, maupun tujuan hidup yang tidak jelas. Kondisi semacam ini yang sering menimbulkan tindak kejahatan termasuk penyalahguna Narkoba. Dalam Manggala Sutta dijelaskan bahwa “Melenyapkan dan menjauhkan diri dari kejahatan, menahan diri terhadap barang yang memabukan dan tekun melaksanakan kebajikan, inilah berkah termulia” (Manggala Sutta)

Kemudian Buddha menegaskan dalam sabdanya” Akhlak yang baik memberi berkah pada kita hingga usia tua, Rahmat itu berpangkal dan bertahan berkat kepercayaan. Sedang kearifan adalah permata yang mulia dari kemanusiaan. Dan jasa kebajikan tiada akan lenyap dilarikan pencuri” (Samyutta Nikaya I:6:1) Dengan memelihara akhlak , kepercayaan, kearifan, dan kebajikan , harapan senantiasa layak diperbaharui, maka setan yang dinamakan Narkoba akan menjauh dari dirinya.**

 
 
 

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.